//verifikasi //verifikasi Makalah Sejarah Pulau Harapan - pendapat.id
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Makalah Sejarah Pulau Harapan


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Sejarah merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dilepas dari kehidupan manusia. Sejarah sangatlah penting untuk dikenang oleh setiap orang. Sejarah tidak hanya melingkup ke proses terbentuknya suatu negara saja, namun sejarah juga dapat dikaji hingga ke daerah – daerah terpencil sekalipun, termasuk wilayah tempat tinggal kita. Dalam proses sejarah, tentunya terdapat sejarah lokal. Sejarah Lokal adalah proses perkembangan keaktifan kemanusiaan didaerah tertentu. Pengertian daerah disini adalah lingkungan geografis tertentu, yang dari sudut arealnya dapat diperluas dan dipersempit. Dalam pengertian Sejarah Indonesia, Sejarah Lokal berarti sejarah daerah di Indonesia. Batasan keluasan areal dari apa yang disebut Sejarah Lokal adalah sulit ditentukan. Sejarah Jawa, Sejarah Kalimantan dapat disebut Sejarah Lokal (ada juga yang menyebut dengan Sejarah Regional). Jangkauan tersebut dapat dipersempit, misalnya menjadi Sejarah Jawa Timur, Sejarah Kalimantan Barat, Sejarah Sumatera Barat dan sebagainya.
Disini jelas bahwa pembagian Sejarah Lokal adalah segi geografis, dasar pembagian Lokal ini umumnya sejajar dengan pembagian territorial administrative politis. Jangkauan pengertian Sejarah Lokal bahkan dapat lebih dipersempit, misalnya menjadi Sejarah makasar, Sejarah Banjarmasin, Sejarah Cirebon, Sejarah Yogyakarta dan sebagainya. Penyempitan Sejarah local pun bisa diteruskan menjadi sejarah Kota, Sejarah Kabupaten dan bahkan Sejarah Desa.
Berdasarkan rumusan diatas, akan menjadi sulit untuk dirumuskan seberapa luas daerah yang dapat disebut Sejarah Lokal. Dapat juga diartikan ukuran Lokal mempunyai arti sebagian dari lingkungan Areal yang lebih luas. Sejarah Jawa Barat dapat disebut Lokal bila dipandang dari sudut Sejarah Indonesia. Dengan demikian, dapatkah Sejarah Indonesia disebut Sejarah Lokal menurut ukuran Sejarah Dunia? Untuk tujuan praktis disini disarankan, bahwa Sejarah Lokal dalam pengertian Sejarah Indonesia adalah Sejarah yang terjadi di daerah tertentu di Wilayah Indonesia.
Luas-Sempitnya daerah sebenarnya tidak menjadi ukuran penting tidaknya dipandang dari sudut Sejarah. Daerah yang kecil (sempit) dapat lebih penting sejarahnya jika dibanding dengan daerah yang lebih besar (luas). Kota Bandar Gresik pada abad-XV lebih penting dipandang dari sudut sejarahnya daripada seluruh kota-kota pantai selatan Jawa pada waktu yang sama. Factor-faktor seperti strategis letak geografisnya, tinggi rendahnya tingkat kultur setempat, keaktifan ekonomis dan sebagainya sangat menentukan penting tidaknya sejarah daerah tersebut.
Dalam pengertian Subjektif, Sejarah Lokal berarti uraian atau cerita keaktifan kemanusiaan didalam daerah tertentu. Gambaran-gambaran Sejarah Lokal sebagai mikro-histori tidak sedikit gunanya untuk melengkapi dan memperjelas gambaran keaktifan kemanusiaan umumnya dalam Sejarah Indonesia. Kata gambaran disini telah menunjukkan sifatnya yang subjektif dari Sejarah karena proses Sejarah telah ditinjau dari suatu subjek sehingga merupakan suatu gambaran tertentu.
Namun, naasnya kebanyakan orang kurang mengetahui mengenai sejarah lokal dari daerah sendiri. Oleh karenanya, bisa dikatakan tidak wajar jika seseorang memiliki daerah tempat tinggal namun tidak mengetahui asal mula mengenai sejarah dari daerah tersebut. Maka dari itu, penulis mengkaji mengenai sejarah lokal dari daerah tempat tinggal penulis yang bernama desa “Pulau Harapan” agar dapat mengetahui bagaimana proses sejarah dari penamaan desa Pulau Harapan serta untuk mengetahui apa saja hal-hal unik yang berkaitan dengan sejarah desa Pulau Harapan.

B.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut.
1.      Kurangnya pengetahuan siswa terhadap sejarah lokal daerah sendiri.
2.      Diperlukan adanya pengetahuan mengenai sejarah lokal daerah tempat tinggal setiap siswa guna mengetahui secara jelas mengenai sejarah lokal daerah tempat tinggalnya sendiri.
           
C.    Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah pada penelitian ini adalah :
  1. Wawancara dan observasi yang akan dilakukan peneliti hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah desa Pulau Harapan.
  2. Penelitian ini dilaksanakan dengan melibatkan dua narasumber yang menjadi patokan dalam penggalian sejarah desa Pulau Harapan.
  3. Penelitian ini dilaksanakan guna memperdalam kajian mengenai sejarah desa Pulau Harapan.

D.    Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari karya tulis ini, yaitu :
1.      Bagaimanakah keadaan wilayah desa Pulau Harapan pada waktu masih dalam proses pembentukannya?
2.      Apa sajakah hal-hal yang melatarbelakangi terbentuknya penamaan desa “Pulau Harapan”?
3.      Apa sajakah hal-hal unik yang berkaitan dengan sejarah desa Pulau Harapan?

E.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian karya tulis ini, yaitu :
1.      Untuk mengetahui bagaimana keadaan wilayah desa Pulau Harapan pada waktu masih dalam proses pembentukannya.
2.      Untuk mengetahui apa saja hal-hal yang melatarbelakangi terbentuknya penamaan desa “Pulau Harapan”.
3.      Untuk mengetahui apa saja hal-hal unik yang berkaitan dengan sejarah desa Pulau Harapan.

F.     Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian karya tulis ilmiah ini, yaitu :
1.      Bagi masyarakat, diharapkan agar dapat mengingat kembali proses dari sejarah penamaan desa “Pulau Harapan” sekaligus dapat memperhatikan kebiasaan-kebiasaan atau hal-hal unik dari sejarah desa Pulau Harapan.
2.      Bagi siswa, diharapkan agar dapat mengetahui sejarah lokal dari penamaan desa “Pulau Harapan”, serta dapat mengetahui apa saja hal-hal unik dari sejarah desa Pulau Harapan.
3.      Bagi guru, diharapkan agar dapat menjadikan karya tulis ini sebagai bahan masukan dalam proses belajar mengajar agar tercipta pembelajaran yang bermanfaat mengenai proses dari sejarah lokal daerah tempat tinggal masing-masing siswa.



















BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN


A.    Bagaimanakah Keadaan Wilayah Desa Pulau Harapan Pada Waktu Masih Dalam Proses Pembentukannya?
Pada karya tulis ini, penulis mewawancarai dua orang narasumber yang menjadi rujukan dalam proses penggalian sejarah mengenai desa “Pulau Harapan”. Narasumber yang pertama, penulis mewawancarai bapak Fahrurrozi, S.Ip, M.Si. Menurut pendapat beliau menjelaskan bahwa pada awal mulanya, wilayah Pulau Harapan pada dahulu masih terdapat hutan belukar, hutan alang-alang, sungai pasang surut. Kemudian, penghidupan atau mata pencaharian masyarakat Pulau pada waktu itu, disamping mereka membuka lading, mereka juga bersawah pasang surut yang terletak di utara desa yang hasilnya sangat memuaskan terutama untuk komoditas padi.
Desa Pulau Harapan merupakan daerah yang pada awalnya, masyarakat desa Pulau Harapan bernomaden (ladang berpindah) dan bibit karet yang mereka gunakan masih bibit alam yang hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Baru setelah ada perkebunan inti rakyat, masyrakat daerah Pulau Harapan, baru menggunakan bibit yang baik (hasil penelitian) sehingga sampai dengan sekarang, masyrakat daerah Pulau Harapan, pada umumnya setiap membuka perkebunan karet akan menggunakan bibit hasil penelitian.

B.     Apa Sajakah Hal-Hal Yang Melatarbelakangi Terbentuknya Penamaan Desa “Pulau Harapan”?
Pulau Harapan adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Indonesia. Desa Pulau Harapan berasal dari kata Pulau dan Harapan. Pulau berasal dari suatu daratan yang dikelilingi oleh lautan. Begitu juga pulau harapan yang dikelilingi oleh dua buah sungai, dimana pada sebelah Timur dilalui sungai Lalang, dan hulu pada sungai ini berada di Selatan. Kemudian, di sebelah barat di aliri oleh sungai Gardu yang dulunya berada di Selatan. Kedua sungai ini bertemu di Selatan, dan di sebelah utaranya bertemu di anak sungai Banyuasin. Sehingga, desa Pulau tersebut dikelilingi oleh dua buah sungai, yaitu sungai Lalang dan sungai Gardu. Dan hal inilah yang menyebabkan terbentuknya kata “Pulau” karena di
Kata “harapan” merupakan hasil musyawarah mufakat masyarakat pada tahun 70-an, bahwa desa Pulau Harapan ini merupakan tempat masyarakat pendatang untuk mencari sumber penghidupan, sebab pada tahun 70-an di desa ini ada suatu pabrik karet (remiling). Di daerah sana banyak masyarakat pendatang yang bekerja di sana. Dengan adanya hal ini, maka merupakan harapan bagi mereka untuk dapat melanjutkan kehidupan mereka. Selanjutnya, pada tahun 70-an, di desa Pulau Harapan, dibuka suatu perkebunan karet yang bernama SRDP atau perkebunan inti rakyat. Perkebunan inilah bahwa selanjutnya, masyarakat Pulau menggantungkan harapan untuk penghidupan mereka selanjutnya hingga saat ini.

C.    Apa Sajakah Hal-Hal Unik Yang Berkaitan Dengan Sejarah Desa Pulau Harapan?
Mengenai hal-hal yang unik dalam sejarah desa Pulau Harapan, penulis mewawancarai ibu Suningsih yang mengetahui tentang hal-hal unik
 atau kebiasaan yang telah menjadi tradisi bagi masyarakat daerah Pulau Harapanm. Menurut beliau, ada beberapa hal yang sampai saat ini masih saja menjadi tradisi atau kebiasaan tersendirinya bagi masyarakat daerah Pulau Harapan. Kebiasaan yang bisa dikatakan hal unik ini pun sudah menjadi tradisi yang sampai saat ini masih sangat dipercaya oleh masyarakat daerah Pulau Harapan. Adapun mengenai beberapa hal unik tersebut yakni sebagai berikut.
a.      Kebiasaan “Beume Talang”
Kebiasaan ini merupakan kebiasaan masyarakat desa Pulau Harapan pada masa dulu, dimana masyarakat desa Pulau Harapan menanam padi talang dan kemudian jika padi tersebut telah layak dipanen, maka masyarakat akan pun akan segera memanennya. Kebiasaan ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan pangan masyarakat daerah Pulau Harapan.
b.      Peletakan Telur Di Sudut Rumah Yang Baru Dibangun
Kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang diyakini oleh masyarakat daerah Pulau Harapan untuk  mengusir makhluk halus / gaib yang biasanya menganggu penghuni rumah. Untuk mencegah agar makhluk halus tersebut tidak menganggu, maka masyarakat di desa Pulau Harapan meyakini bahwa peletakan telur disudur rumah yang baru dibangun dapat menjadi hal yang dapat mencegah terjadinya pengangguan oleh makhluk halus/gaib.
c.       Peletakan Guci, Kelapa, Bendera, Dan Pisang Di Atas Rumah Yang Baru Di Bangun
Kebiasaan ini merupakan kebiasaan yang juga diyakini oleh masyarakat daerah Pulau Harapan untuk  mengusir makhluk halus / gaib yang biasanya menganggu penghuni rumah. Untuk mencegah agar makhluk halus tersebut tidak menganggu, maka masyarakat di desa Pulau Harapan meyakini bahwa peletakan guci, kelapa, bendera, dan pisang di atas rumah yang baru di bangun  dapat menjadi hal yang dapat mencegah terjadinya pengangguan oleh makhluk halus/gaib.
d.      Pelaksanaan Acara Pernikahan Yang Mayoritasnya Hari Senin
Pelaksanaan acara pernikahan dilaksanakan pada hari Senin dikarenakan masyarakat daerah Pulau Harapan telah mendapatkan uang dari hasil penjualan getah karet yang dilaksanakan pada hari Minggu sore. Sehingga pada waktu pemberian amplop yang berisikan uang pada saat menghadiri undangan, masyarakat dapat memberikan uangnya dalam acara pernikahan tersebut dengan menggunakan uang hasil penjualan karetnya.
e.       Istilah “Kalangan” Yang Di Laksanakan Pada Hari Senin
Istilah “kalangan” merujuk pada arti pasar. Kalangan merupakan tempat masyarakat daerah Pulau Harapan untuk membeli berbagai kebutuhan yang diperlukan. Kalangan itu sendiri dibuka pada Senin dikarenakan pada hari Minggu sore, masyarakat desa Pulau Harapan telah menjual karetnya, sehingga dengan adanya hal ini maka mereka akan mendapatkan uang dari hasil penjualan karet itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan sebagian besar masyarakat desa Pulau Harapan yang berprofesi sebagai pedagang untuk menjual dagangannya pada hari Senin.





















BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


A.    Simpulan
Adapun beberapa simpulan dalam karya tulis ini, yakni sebagai berikut.
1.      Menurut bapak Fahrurrozi S. Ip, M.Si menyatakan bahwa keadaan wilayah desa Pulau Harapan dahulunya masih terdapat hutan belukar, hutan alang-alang, dan sungai pasang surut.
2.      Kata “Pulau” menunjukkan bahwa desa Pulau Harapan dulunya dikelilingi oleh dua buah sungai, yaitu sungai Lalang dan sungai Gardu. Sedangkan kata “Harapan” menunjukkan bahwa di desa Pulau Harapan terdapat perkebunan dimana masyarakat Pulau Harapan menggantungkan harapan untuk penghidupan mereka selanjutnya hingga saat ini.
3.      Menurut wawancara yang bernarasumberkan ibu Suningsih, hal-hal unik dari sejarah desa Pulau Harapan yakni seperti kebiasaan “beume talang”, peletakan telur di sudut rumah yang baru dibangun, peletakan guci, kelapa, bendera, dan pisang di atas rumah yang baru di bangun, pelaksanaan acara pernikahan yang mayoritasnya hari Senin, dan istilah “kalangan” yang di laksanakan pada hari Senin.

B.     Saran
Adapun saran dalam karya tulis ini yakni sebagai berikut.
1.      Bagi masyarakat diharapkan agar dapat menumbuhkan kesadaran dalam jiwa betapa pentingnya mengingat sejarah local daerah sendiri agar kenangan dari sejarah tersebut tidak pernah luntur maupun terlupakan.
2.      Bagi pelajar diharapkan dapat mengetahui secara mendalam mengenai sejarah lokal daerah sendiri agar budaya-budaya atau hal-hal yang unik yang merupakan peninggalan dari sejarah lokal itu dapat terus berkembang dan tidak pernah memudar.
DAFTAR PUSTAKA


Anonim.2010.Pengertian Mengenai Sejarah Lokal dalam http://inzpirasikuw.blogspot.co.id/2010/09/pengertian-sejarah-lokal.html (diakses pada Agustus 2016).

Anonim.2016.Pengenalan Mengenai Desa Pulau Harapan dalam  https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Harapan,_Sembawa,_Banyuasin (diakses pada Agustus 2016).

Wawancara pribadi dengan bapak Fahrurrozi, S.Ip, M.Si untuk memperdalam mengenai kajian sejarah tentang desa “Pulau Harapan”.

Wawancara pribadi dengan ibu Suningsih untuk memperdalam mengenai kajian sejarah tentang hal-hal unik yang berkaitan dengan sejarah dari desa Pulau Harapan.
























LAMPIRAN












Text Box: Bapak Fahrurrozi, S.Ip, M.Si
Text Box: Ibu Suningsih
 


































BIODATA NARASUMBER

Nama                           : Fahrurrozi, S.Ip, M.Si
Tempat, Tanggal Lahir: Pulau Harapan, 17 Agustus 1962
Alamat                        : Desa Pulau Harapan
Pekerjaan                     : Pegawai Negeri Sipil



BIODATA NARASUMBER

Nama                           : Suningsih
Tempat, Tanggal Lahir: Mainan, 6 Agustus 1967
Alamat                        : Desa Pulau Harapan
Pekerjaan                     : Ibu Rumah Tangga



Post a Comment for "Makalah Sejarah Pulau Harapan"