//verifikasi //verifikasi Kerajaan-kerajaan yang Ada di Indonesia - pendapat.id
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kerajaan-kerajaan yang Ada di Indonesia




BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
 Indonesia memiliki banyak kebudayaan, dan kebudayaan-kebudayaan itu muncul dari kerajaan-kerajaan terdahulu yang sempat menjadi sejarah di Indonesia. Hingga saat ini pun adat kebudayaan itu masih melekat pada masyarakat Indonesia. Selain membawa pengaruh adat dan kebiasaan,kerajaan-kerajaan itu pun membawa beberapa pengaruh agama. Beberapa kerajaan – Kerajaan itu merupakan tonggak dari sejarah Indonesia,terutama terhadap Kerajaan – Kerajaan yang melakukan penyebaran agama Islam di Nusantara. Kerajaan – Kerajaan itu sangatlah memiliki peranan yang penting dan menjadi tonggak sejarah pernyebaran agama Islam di Nusantara.
 Proses penyebarannya pun mengalami banyak cara atau metode sehingga penyebarannya dapat dilakukan dengan merata pada setiap kerajaan. Kerajaan – Kerajaan itu merupakan salah satu faktor penyebaran agama Islam di Nusantara sehingga berkembang seperti pada saat ini. Dalam melakukan penyebaran agama Islam di Nusantara,tentunya Kerajaan – Kerajaan tersebut memiliki metode atau cara yang berbeda – beda dalam proses penyebarannya. Cara atau metode itupun merupakan salah satu taktik atau cara yang dilakukan pada masing – masing Kerajaan demi tersebarnya agama Islam pada masing – masing Kerajaan.Akan tetapi,dalam melakukan proses penyebarannya,Kerajaan – Kerajaan tersebut tidaklah dengan mudah menyebarkan agama Islam hingga ke seluruh masing – masing Kerajaan.
Kegigihan dan keberanian para tokoh – tokoh yang menyebarkan agama Islam di Nusantara juga menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara. Tentunya mereka juga memiliki tekad dan jiwa yang kuat dalam menghadapi berbagai rintangan dan hal apapun yang menghadang demi tersebarnya agama Islam di Nusantara. Melalui berbagai cara dan metode tertentu,mereka pun dapat menyebarkan agama Islam ke penjuru tanah air.
Akan tetapi, dalam hal ini penulis hanya mengkaji mengenai Kerajaan Samudera Pasai,Kerajaan Aceh Darussalam,dan Kerajaan Islam di Riau,sehingga dapat dikaji dan diketahui bagaimana proses penyebaran agama Islam di Nusantara,serta cara atau metode yang dilakukan dari masing – masing Kerajaan untuk menyebarkan agama Islam.

1.2 Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah proses masuknya Islam ke Nusantara?
2.    Bagaimanakah proses mencapai masa kejayaan pada Kerajaan Samudera Pasai,Kerajaan Aceh Darussalam,dan Kerajaan Islam di Riau?
3.    Apa sajakah cara atau metode yang dilakukan dalam melakukan  penyebaran agama Islam?
1.3 Tujuan Penelitian
1.    Untuk  mengetahui proses penyebaran agama Islam ke Nusantara.
2.    Untuk mengetahui proses mencapai masa kejayaan pada Kerajaan Samudera Pasai,Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Islam di Riau.
3.    Untuk mengetahui cara atau metode yang dilakukan dalam proses penyebaran agama Islam.
1.4 Manfaat Penelitian
1.    Bagi penulis,yaitu dapat meningkatan mutu  penulisan karya tulis dan mengetahui kerajaan-kerajan Islam di Nusantara pada Kerajaan Samudera Pasai,Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Islam di Riau.
2.    Bagi pelajar,yaitu dapat mengetahui cara / metode serta proses penyebaran agama Islam di Nusantara.











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1Seputar Mengenai Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai muncul pada sekitar abad 13, setelah kehancuran kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini terletak lebih kurang 15 km di sebelah timur Lhokseumawe. Kerajaan ini didirikan oleh Marah Silu yang kemudian berganti nama menjadi Malik As Saleh setelah beliau memeluk agama Islam.Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Sultan Malik As Saleh berkuasa lebih kurang 29 tahun (1297-1326 M). Kerajaan Samudera Pasai merupakan gabungan dari Kerajaan Pase dan Peurlak. Adanya Samudera Pasai ini diperkuat oleh catatan Ibnu Batutah, sejarawan dari Maroko. Kronik dari orang-orang Cina pun membuktikan hal ini. Menurut Ibnu Batutah, Samudera Pasai merupakan pusat studi Islam. Ia berkunjung ke kerajaan ini pada tahun 1345-1346. Ibnu Batutah menyebutnya sebagai “Sumutrah”, ejaannya untuk nama Samudera, yang kemudian menjadi sumatera.Dan berdasarkan catatan Batutah, Islam telah ada di Samudera Pasai sejak seabad yang lalu, jadi sekitar abad ke-12 M.

2.2  Seputar Mengenai Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan Samudera Pasai. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pada tahun 1360 M, Samudera Pasai ditaklukkan oleh Majaphit, dan sejak saat itu, kerajaan Pasai terus mengalami kemunduran. Diperkirakan, menjelang berakhirnya abad ke-14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H (1511 M) . Pada tahun 1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan Pasai, dan sejak saat itu, menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut. Bisa dikatakan bahwa, sebenarnya kerajaan Aceh ini merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai untuk membangkitkan dan meraih kembali kegemilangan kebudayaan Aceh yang pernah dicapai sebelumnya.
Dalam sejarah nasional Indonesia, Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama). Guru yang memimpin pendidikan dan pengajaran di dayah disebut dengan teungku. Jika ilmunya sudah cukup dalam, maka para teungku tersebut mendapat gelar baru sebagai Teungku Chiek. Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin oleh seseorang yang disebut dengan tengku meunasah.

2.3  Seputar Mengenai Kerajaan Islam Di Riau
Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islamyang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia. Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung.Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaanbahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialismeEropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas diKalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan.Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir,Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung denganRepublik Indonesia.
Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskertasri berarti "bercahaya" danindera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama IslamOrang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India,Sihag atau Asiagh yangbermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsaAsii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani.Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai





















BAB III
METODOLOGI PENULISAN

3.1 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan karya  ini merupakan metode deskriptif analisis, yaitu mendeskripsikan tentang kerajaan – kerajaan Islam di Nusantara.Akan tetapi,dalam hal ini,penulis hanya mendeskripsikan tentang kerajaan Samudera Pasai,Kerajaan Aceh Darussalam,dan Kerajaan Islam di Riau.
3.2 Tempat dan waktu penulisan
                 Penulisan karya inidilakukandi SMA Plus Negeri 2 Banyuasin III dan dilaksanakanpadatanggal 01 Maret – 03 Maret 2015.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penulisan karya tulis  ini, penulis berusaha mendapatkan hasil yang baik. Oleh karena itu, penulis menggunakan beberapa cara dalam mengumpulkan data, antara lain sebagai berikut.
a.)    KajianPustaka
Untuk melengkapi data-data yang diperlukan dalam penulisan karya tulis ini, penulis mempelajari dan menggunakan teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang dibahas sebagai dasar pemikiran dan untuk memperkuat data sebagai kajian teori.
b.)   Dokumentasi
          Penulisan karya tulis ini juga dilengkapi dengan gambar(dokumentasi).
3.4 Metode Analisis Data
Adapun metode analisis data yang digunakan untuk menganalisis data hasil penulisan karya tulis ini adalah metode deskriptif analisis, yaitu dengan mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif mengenai hal hal yang berkaitan Kerajaan – Kerajaan Islam di Nusantara (Kerajaan Samudera Pasai,Kerajaan Aceh Darussalam,dan Kerajaan Islam di Riau).





















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Bagaimana Proses Masuknya Islam Ke Nusantara?
Dalam kajian ilmu sejarah, tentang masuknya Islam di Indonesia masih “debatable”. Oleh karena itu perlu ada penjelasan lenih dahulu tentang penegrtian “masuk”, antara lain:
  1. Dalam arti sentuhan (ada hubungan dan ada pemukiman Muslim).
  2. Dalam arti sudah berkembang adanya komunitas masyarakat Islam.
  3. Dalam arti sudah berdiri Islamic State (Negara/kerajaan Islam).
Selain itu juga masing-masing pendapat penggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, beberapa tulisan dari sumber barat, dan timur. Disamping jiga berkembang dari sudut pandang Eropa Sentrisme dan Indonesia Sentrisme.
Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
1.                  Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:
1.      Seminar masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
2.      Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
3.        Dari Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan Malaya antara tahun 606-699 M.
4.        Prof. Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan Malaya-Indonesia pada 672 M.
5.    Prof. Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah masuk ke Malaya.
6.      Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
7.      W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
8.      T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
2.    Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:
Satu-satunya sumber ini adalah diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082)
3.    Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:
1.      Catatan perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
2.      K.F.H. van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
3.      J.P. Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13.
4.      Beberapa sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa kerajaaan islam di kawasan Indonesia.

4.2  Bagaimana Proses Masa Kejayaan Pada Kerajaan Samudera Pasai?
Berdasarkan Hikayat Raja-raja Pasai, menceritakan tentang pendirian Pasai oleh Marah Silu, setelah sebelumnya ia menggantikan seorang raja yang bernama Sultan Malik al-Nasser.Marah Silu ini sebelumnya berada pada satu kawasan yang disebut dengan Semerlanga kemudian setelah naik tahta bergelar Sultan Malik as-Saleh, ia wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.Dalam Hikayat Raja-raja Pasai maupun Sulalatus Salatin nama Pasai dan Samudera telah dipisahkan merujuk pada dua kawasan yang berbeda, namun dalam catatan Tiongkok nama-nama tersebut tidak dibedakan sama sekali. Sementara Marco Polo dalam lawatannya mencatat beberapa daftar kerajaan yang ada di pantai timur Pulau Sumatera waktu itu, dari selatan ke utara terdapat nama Ferlec (Perlak), Basma dan Samara (Samudera).
Pemerintahan Sultan Malik as-Saleh kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Malik az-Zahir dari perkawinannya dengan putri Raja Perlak. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, koin emas sebagai mata uang telah diperkenalkan di Pasai, seiring dengan berkembangnya Pasai menjadi salah satu kawasan perdagangan sekaligus tempat pengembangan dakwah agama Islam. Kemudian sekitar tahun 1326 ia meninggal dunia dan digantikan oleh anaknya Sultan Mahmud Malik az-Zahir dan memerintah sampai tahun 1345. Pada masa pemerintahannya, ia dikunjungi oleh Ibn Batuthah, kemudian menceritakan bahwa sultan di negeri Samatrah (Samudera) menyambutnya dengan penuh keramahan, dan penduduknya menganut Mazhab Syafi'i.Selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik az-Zahir putra Sultan Mahmud Malik az-Zahir, datang serangan dari Majapahit antara tahun 1345 dan 1350, dan menyebabkan Sultan Pasai terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan.
Pusat pemerintahan Kesultanan Pasai terletaknya antara Krueng Jambo Aye (Sungai Jambu Air) dengan Krueng Pase (Sungai Pasai),Aceh Utara. Menurut ibn Batuthah yang menghabiskan waktunya sekitar dua minggu di Pasai, menyebutkan bahwa kerajaan ini tidak memiliki benteng pertahanan dari batu, namun telah memagari kotanya dengan kayu, yang berjarak beberapa kilometer dari pelabuhannya. Pada kawasan inti kerajaan ini terdapat masjid, danpasar serta dilalui oleh sungai tawar yang bermuara ke laut. Ma Huan menambahkan, walau muaranya besar namun ombaknya menggelora dan mudah mengakibatkan kapal terbalik.Sehingga penamaanLhokseumawe yang dapat bermaksud teluk yang airnya berputar-putarkemungkinan berkaitan dengan ini. Dalam struktur pemerintahan terdapat istilah menterisyahbandar dankadi. Sementara anak-anak sultan baik lelaki maupun perempuan digelari dengan Tun, begitu juga beberapa petinggi kerajaan. Kesultanan Pasai memiliki beberapa kerajaan bawahan, dan penguasanya juga bergelar sultan.
Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Malik az-Zahir, Kerajaan Perlak telah menjadi bagian dari kedaulatan Pasai, kemudian ia juga menempatkan salah seorang anaknya yaitu Sultan Mansur di Samudera. Namun pada masa Sultan Ahmad Malik az-Zahir, kawasan Samudera sudah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang tetap berpusat di Pasai. Pada masa pemerintahan Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, Lide (Kerajaan Pedir) disebutkan menjadi kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu Pasai juga disebutkan memiliki hubungan yang buruk dengan Nakur, puncaknya kerajaan ini menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai terbunuh.
Menjelang masa-masa akhir pemerintahan Kesultanan Pasai, terjadi beberapa pertikaian di Pasai yang mengakibatkanperang saudaramenceritakan Sultan Pasai meminta bantuan kepada Sultan Melaka untuk meredam pemberontakan tersebut. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun 1521yang sebelumnya telah menaklukan Melaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

4.3  Bagaimana Proses Masa Kejayaan Pada Kerajaan Aceh Darussalam?
Meskipun Sultan dianggap sebagai penguasa tertinggi, tetapi nyatanya selalu dikendalikan oleh orangkaya atau hulubalang. Hikayat Aceh menuturkan Sultan yang diturunkan paksa diantaranya Sultan Sri Alam digulingkan pada 1579 karena perangainya yang sudah melampaui batas dalam membagi-bagikan harta kerajaan pada pengikutnya. Penggantinya Sultan Zainal Abidin terbunuh beberapa bulan kemudian karena kekejamannya dan karena kecanduannya berburu dan adu binatang. Raja-raja dan orangkaya menawarkan mahkota kepada Alaiddin Riayat Syah Sayyid al-Mukamil dari Dinasti Darul Kamal pada 1589. Ia segera mengakhiri periode ketidak-stabilan dengan menumpas orangkaya yang berlawanan dengannya sambil memperkuat posisinya sebagai penguasa tunggal Kesultanan Aceh yang dampaknya dirasakan pada sultan berikutnya.
Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 - 1636) atau Sultan Meukuta Alam. Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timahutama. Pada tahun 1629, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu. Sayangnya ekspedisi ini gagal, meskipun pada tahun yang sama Aceh menduduki Kedah dan banyak membawa penduduknya ke Aceh.
Pada masa Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil (kakek Sultan Iskandar Muda) didatangkan perutusan diplomatik ke Belanda pada tahun 1602 dengan pimpinan Tuanku Abdul Hamid. Sultan juga banyak mengirim surat ke berbagai pemimpin dunia seperti ke Sultan Turki Selim II, Pangeran Maurit van Nassau, danRatu Elizabeth I. Semua ini dilakukan untuk memperkuat posisi kekuasaan Aceh.

4.4  Bagaimana Proses Masa Kejayaan Pada Kerajaan Islam di Riau?
                Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515,Siak merupakan kawasan yang berada antara Arcat dan Indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau, kemudian menjadi vasal Malaka sebelum ditaklukan oleh Portugal. Sejak jatuhnya Malaka ke tangan VOCKesultanan Johor telah mengklaim Siak sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya. Hal ini berlangsung hingga kedatangan Raja Kecil yang kemudian mendirikan Kesultanan Siak.
Dalam Syair Perang SiakRaja Kecil didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis. Hal ini bertujuan untuk melepaskan Siak dari pengaruh Kesultanan Johor.Sementara dalam Hikayat Siak, Raja Kecil disebut juga dengansang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan.Berdasarkan korespondensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC.Kemudian Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri yang ditujukan kepada pihak Belanda, menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung, akan menuntut balas atas kematian Sultan Johor.
Sebelumnya dari catatan Belanda, dikatakan bahwa pada tahun 1674 telah datang utusan dari Johor meminta bantuan rajaMinangkabau untuk berperang melawan raja Jambi. Dalam salah satu versi Sulalatus Salatin, juga menceritakan tentang bagaimana hebatnya serangan Jambi ke Johor (1673), yang mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan Johor, yang sebelumnya juga telah dihancurkan oleh Portugal dan Aceh.Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi,Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.
Pada tahun 1718, Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johorsekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor. Namun pada tahun 1722, terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Sulaiman anak Bendahara Johor, yang juga menuntut hak atas tahta Johor. Atas bantuan pasukan bayaran dari Bugis, Raja Sulaiman kemudian berhasil mengkudeta tahta Johor, dan mengukuhkan dirinya menjadi penguasa Johor di Semenanjung Malaysia. Sementara Sultan Abdul Jalil, pindah ke Bintan dan pada tahun 1723 membangun pusat pemerintahan baru di sehiliran Sungai Siak dengan nama Siak Sri Inderapura. Sementara pusat pemerintahan Johor yang sebelumnya berada sekitar muara Sungai Johor ditinggalkan begitu saja, dan menjadi status quo dari masing-masing penguasa yang bertikai tersebut. Sedangkan klaim Raja Kecil sebagai pewaris sah tahta Johor, diakui oleh komunitasOrang Laut. Orang Laut merupakan kelompok masyarakat yang bermukim pada kawasan Kepulauan Riau yang membentang dari timur Sumatera sampai ke Laut Cina Selatan, dan loyalitas ini terus bertahan hingga runtuhnya Kesultanan Siak.

4.5  Cara atau Metode Apa Sajakah Dalam Proses Penyebaran Agama Islam?
 Penyiaran agama Islam dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
§  Perdagangan.
Proses Islamisasi melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektif cara-cara lain. Apalagi yang terlibat bukan hanya masyarakat dari golongan bawah melainkan juga dari golongan atas seperti kaum bangsawan atau para raja.

§  Perkawinan.
Para pedagang Islam dalam melakukan perdagangan memerlukan waktu yang lama,sehingga harus menetap di suatu daerah tertentu. Keadaan ini mempercepat hubungan dengan kaum pribumi/bangsawan. Terkadang juga sampai dengan perkawinan, sehingga melalui perkawinan terlahir seorang muslim.

§  Politik.
Pengaruh kekuasaan seorang raja berpengaruh besar dalam proses Islamisasi. Setelah raja memeluk Islam, maka rakyatnya mengikuti jejak rajanya. Setelah tersosialisasi dengan agama Islam, maka kepentingan politik dilaksanakan melalui perluasan wilayah kerajaanyang diikuti dengan penyebaran agama Islam.

§  Pendidikan.
Para ulama, guru agama atau para kyai juga memiliki peran penting dalam penyebaran Islam. Dengan mendirikan pondok pesantren sebagai tempat pengajaran agama Islam bagi para santri.

§  Kesenian.
Melalui kesenian penyebaran agama Islam dapat dilakukan seperti melakukan pertunjukan wayang dan gamelan. Kesenian tersebut sangat digemari masyarakat. Dengan bercerita atau berdakwah para ulama dapat menyisipkan ajaranagama Islam.

§  Tasawuf. 
Para ahli tasawuf biasanya memiliki keahlian yang dapat membantu rakyat, seperti menyembuhka penyakit dan lain-lain. Penyebaran agama Islam yang mereka lakukan  disesuaikan dengan kondisi, alam pikiran dan budaya masyarakat pada saat itu, sehingga ajaran Islam dengan mudah diterima masyarakat.Melalui berbagai saluran di atas, Islam dapat diteima dan berkembang pesat sejak sekitar abad ke-13 M. Dengan alasan sebagai berikut:
§  Islam bersifat terbuka, sehingga penyebaran agama Islam dapat dilakukan oleh siapa saja atau oleh setiap seorang muslim.
§  Penyebaran agama Islam dilakukan secara damai.
§  Islam tidak membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat.
§  Upacara-upacara dalam agama islam dilakukan dengan sederhana.
§  Ajaran Islam berupaya untuk menciptakan kesejahteraan kehidupan masyarakatnya dengan adanya kewajiban zakat bagi yang mampu.
                            


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
1. Proses masuknya Islam ke Nusantara banyak melalui proses dan berbagai silang pendapat, seperti pada teori – teori yang pernah dikenal tentang proses masuknya agam Islam ke Nusantara, yaitu teori Gujarat, teori Persia, dan teori Arab.
2. Proses masa kejayaan pada masa Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Aceh Darussalam, dan Kerajaan Islam di Riau begitu panjang dan melalui berbagai  tahap – tahap, mulai dari awal permulaan pemerintahan Kerajaan  - Kerajaan tersebut hingga berlangsungnya masa pemerintahannya serta meruntuhnya masing – masing Kerajaan.
3. Ada berbagai cara dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia,yaitu dapat dilakukan dengan cara melalui jalur perdagangan, perkawinan, pendidikan, politik dan peran ulama.
5.2 Saran
Dalam penulisan karya tulis ini begitu banyak kesalahan dan kekurangan, untuk itu penulis sangatlah mengharapkan kritik yang membangun dari Bapak Pembimbing agar karya tulis ini dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Post a Comment for "Kerajaan-kerajaan yang Ada di Indonesia"